08 November 2026
IPB University bersama Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta berkolaborasi mengembangkan lahan wakaf produktif milik MWCNU Pleret, Kabupaten Bantul. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pemanfaatan Lahan Wakaf Produktif yang diikuti 30 petani penggarap di Joglo Pondok Pesantren Pemanahan NU, Jalan Pleret–Pathuk Nomor 4, Segoroyoso, Pleret, Bantul, Sabtu (7/11/2026).
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari (Sabtu-Ahad, 7-8 November 2026) itu merupakan bagian dari program Tim Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University 2026, bekerja sama dengan Lakpesdam PWNU DIY dan MWCNU Pleret, serta mendapat dukungan STPN dan UNU Yogyakarta.
Program tersebut diarahkan untuk mengembangkan tanah wakaf seluas sekitar 1,5 hektare menjadi kawasan pertanian produktif berupa kebun bibit dan demplot agroforestri. Melalui kegiatan ini, petani tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang budidaya tanaman, tetapi juga keterampilan memproduksi bibit unggul dan pupuk organik secara mandiri.
Ketua Tim Dospulkam IPB University, M. Shohibuddin, menjelaskan bahwa salah satu kendala dalam pengembangan lahan wakaf yang belum produktif adalah keterbatasan akses terhadap bibit berkualitas dan ketergantungan petani pada pupuk yang harus dibeli.
“Kendala lahan wakaf yang menganggur sering sederhana: bibit yang baik sulit dicari dan pupuk harus dibeli dengan harga pasar. Hari ini peserta belajar membuat keduanya sendiri dari bahan yang ada di sekitar pesantren,” jelasnya.
Karena itu, pelatihan dirancang dengan pendekatan praktik langsung. Sekitar tiga perempat waktu dalam setiap sesi dialokasikan untuk kegiatan praktik secara berkelompok. Sebanyak 30 petani dibagi menjadi kelompok kecil yang masing-masing terdiri atas lima hingga enam orang.
Pada sesi pagi, peserta mendapatkan materi sekaligus praktik pembuatan media tanam dan perbanyakan tanaman secara vegetatif. Narasumber IPB University, Andi Sukendro, memperagakan pembuatan arang sekam sebagai salah satu bahan media tanam dengan teknik pembakaran menggunakan cerobong.
Peserta kemudian mempraktikkan perbanyakan tanaman melalui teknik cangkok, sambung pucuk, dan setek. Dalam kegiatan tersebut, pencangkokan dilakukan pada cabang empat pohon induk durian, sedangkan penyambungan pucuk diterapkan pada 20 bibit durian asal biji.
Peserta juga menyiapkan media tanam berupa campuran tanah, cocopeat, dan arang sekam. Galon air minum bekas dimanfaatkan sebagai sungkup untuk menjaga kelembapan bibit.
Teknik perbanyakan vegetatif tersebut dipilih karena memungkinkan tanaman mempertahankan karakter unggul pohon induknya. Selain itu, tanaman hasil perbanyakan vegetatif umumnya dapat memasuki masa berbuah lebih cepat dibandingkan tanaman yang dikembangkan dari biji.
Pada sesi siang, pelatihan dilanjutkan dengan praktik pembuatan pupuk organik cair dan ekoenzim. Peserta mengolah batang pisang yang telah dicacah dan dihaluskan dengan campuran gula merah, EM4, dan air. Sementara itu, pepaya dan pisang matang dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan ekoenzim melalui proses fermentasi.
Pupuk organik cair diperkirakan dapat digunakan sekitar dua minggu setelah proses pembuatan. Adapun ekoenzim membutuhkan waktu fermentasi lebih panjang dan diperkirakan matang pada Februari 2027.
Keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu petani memanfaatkan potensi bahan organik di lingkungan sekitar sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sarana produksi pertanian dari luar.
Perkuat Sinergi Perguruan Tinggi dan NU
Ketua Lakpesdam PWNU DIY, Hairus Salam, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kemitraan antara IPB University, UNU Yogyakarta, dan MWCNU Pleret. Ia berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi berlanjut melalui pendampingan dan pengembangan lahan wakaf.
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi menjadi penting untuk menghadirkan pengetahuan, teknologi, dan pendampingan yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat dalam mengelola aset wakaf.
Ketua PWNU DIY, Dr. KH. A. Zuhdi Muhdlor, S.H., M.Hum., yang turut hadir dalam pembukaan kegiatan, mengapresiasi inisiatif MWCNU Pleret dalam menyediakan lahan wakaf seluas sekitar 1,5 hektare untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian produktif.
Ia menegaskan bahwa pemanfaatan aset wakaf tidak cukup hanya dengan melakukan penanaman pohon. Diperlukan penguatan kapasitas masyarakat agar mampu memproduksi bibit, mengolah pupuk organik, dan mengelola kebun secara mandiri.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWCNU Pleret, Dr. Imam Muhsin, M.Ag., menyambut baik kolaborasi tersebut. Ia berharap dukungan IPB University dan UNU Yogyakarta dapat berlanjut dalam bentuk pendampingan dan pemantauan setelah pelatihan selesai.
Menurutnya, peserta tidak hanya dipersiapkan untuk memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga diharapkan terlibat langsung dalam pengelolaan dan pengembangan lahan wakaf.
Hari kedua pelatihan dijadwalkan dengan agenda praktik penyiapan lahan kebun bibit di atas tanah wakaf MWCNU Pleret. Bibit yang dihasilkan dari pelatihan diharapkan menjadi modal awal pengembangan kebun bibit, sedangkan pupuk organik yang diproduksi peserta diproyeksikan mulai dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan penanaman pada Februari 2027.
Melalui kolaborasi ini, IPB University dan UNU Yogyakarta diharapkan dapat menghadirkan model pengembangan aset wakaf berbasis ilmu pengetahuan, pemberdayaan petani, dan kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan demikian, tanah wakaf tidak hanya menjadi aset keagamaan, tetapi juga sumber manfaat ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi warga.
Kontributor: Markaban Anwar
Keterangan foto
Pelatihan Pemanfaatan Lahan Wakaf Produktif di Joglo Pondok Pesantren Pemanahan MWCNU Pleret, Bantul, Sabtu (7/11/2026).