BULETIN

Pepadang Qolbu volume -15 (Tanda Keimanan "Mencitai Sahabat Anshor")

08 September 2023

Unduh gambar :

Kitab Iman, Bab 9

Tanda Keimanan: Mencintai Sahabat Anshar

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ: أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَبْرٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ.

Telah menceritakan kepada kami Abul Walid, ia ber­kata, “Telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah me­nga­barkan kepadaku Abdullah bin Abdullah bin Jabar, ia berkata, “Aku men­dengar Anas dari Nabi saw, beliau bersab­da, “Tanda iman adalah mencintai (kaum) Anshar dan tan­da nifaq adalah mem­ben­ci (kaum) Anshar.” (HR. Bukhari)

                                           

Ulasan Hadis

Hadis mengenai tanda-tanda keimanan yang terkan­dung dalam mencintai sa­habat An­shar, memberikan kita pandangan yang menca­kup dimensi in­telektual dan dimensi spiritual. Hadis ini mencer­minkan pen­ting­­nya hubungan antarsesama Mus­lim, yang di­ba­ngun atas dasar cin­ta dan pertolongan.

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dalam kitab monu­men­talnya, Fathul Bari, menjelaskan bahwa hadis ini me­lengkapi informasi yang sebelumnya disampaikan dalam bab sebelum­nya. Di dalam­nya dijelaskan bah­wa mencintai sesama Mus­lim karena Allah merupa­kan salah satu tanda keimanan. Namun, hadis ini se­cara khusus menyebutkan bahwa men­cin­tai sahabat Anshar juga ter­masuk dalam tan­da-tanda ke­imanan. Mencintai mereka berarti mencin­tai mereka karena mereka telah membantu Rasulullah saw, sehingga hal ini juga merupakan bentuk mencintai sese­orang karena Allah.

Ulasan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani memberi­kan pe­ma­­ham­an yang lebih dalam mengenai konteks hadis ini. Dia menje­laskan bahwa kata-kata ‘tanda-tanda iman’ (آيَة الْإِيمَانِ) di­guna­kan da­lam semua riwayat hadis ini, termasuk di dalam Sahih Bukhari dan Mus­lim, kitab-kitab sunan, mustakhraj, dan musnad. Ini me­nunjukkan betapa pen­ting­nya mencintai sahabat Anshar sebagai bagian dari ke­imanan.

Membenci mereka karena mereka telah mem­bantu Rasulullah saw me­ru­pakan tan­da kemunafik­an yang nyata. Hadis ini diperkuat dengan hadis yang lain, yang diriwa­yat­kan oleh Abu Nu’aim dari Barra’ bin ‘Azib ra, yang menyata­kan bahwa siapa pun yang mencintai saha­bat Anshar akan dicintai oleh Allah dengan ke­cin­taan yang penuh, dan siapa pun yang membenci mereka akan di­benci-Nya sepenuhnya pu­la. Ulasan ini juga menunjuk­kan adanya kesinam­bungan antara cinta terhadap sahabat Anshar dengan iman dan ke­cintaan kepada Allah.

Dalam konteks sosial saat ini, pemahaman ten­tang hadis ini dapat memberikan pemikiran yang ber­nilai. Kita dapat mengait­kannya dengan pentingnya membangun hu­bungan harmonis an­tar­sesama Mus­lim, dengan berlandas­kan rasa cinta, saling mem­ban­tu, dan saling mendukung. Mencintai sesama Mus­lim tidak hanya sebagai tanda ke­imanan, tetapi ju­ga se­bagai fondasi dari kebersamaan yang kuat dalam ma­syarakat Muslim.

Hadis ini juga mengajarkan pada kita untuk meng­­hor­mati kontribusi dan pengorbanan sahabat An­shar dalam me­nyebarkan agama Islam. Mereka adalah para pendekar Rasu­lullah saw yang dengan penuh dedikasi memberikan dukung­an secara materi, fi­sik dan moral. Oleh karena itu, menjaga kehormatan dan meng­har­gai mereka adalah ben­tuk penghor­mat­an terhadap sejarah Is­lam dan pemba­ngun­an umat.

Dengan memahami hadis ini secara holistik, kita da­pat mem­perkaya pemahaman kita tentang hubung­an so­sial da­lam Islam. Mengintegrasikan dimensi intelektual dan dimen­si spiritual da­lam kajian hadis seperti ini mem­bantu kita menyinari hati dan mem­perdalam pemahaman kita tentang agama. Hal ini ju­ga me­mungkinkan kita un­tuk menjalin ko­neksi yang lebih dalam de­ngan materi yang disajikan, sehing­ga menjadi inspirasi dalam men­jalani kehidupan sehari-hari.

Dalam rangka memperkuat pemahaman ini, kita juga dapat menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam ha­dis ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Men­cintai sesa­ma Mus­lim, saling mem­bantu, dan sa­ling mendukung men­jadi lan­dasan bagi tercip­tanya harmoni dan solidaritas dalam masyarakat Muslim. Dalam konteks zaman modern yang ser­ba indivi­dualis­tik, pemahaman ini menawarkan solusi untuk memperkuat persaudaraan umat Muslim dan mencip­takan kehidupan yang penuh rahmat dan kasih sa­yang.

Garis besarnya, hadis Sahih Bukhari tentang men­­cintai sa­habat Anshar membawa dimensi intelek­tual dan spi­ritual yang kaya. Ulasan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani mem­berikan wawas­an tambahan yang berharga ten­tang konteks dan pemahaman ha­dis ini. Dalam konteks sosial saat ini, pe­mahaman ha­dis ini mengajarkan penting­nya membangun hu­bungan har­monis antar­se­sama Mus­lim dan menghor­mati kontri­busi sahabat Anshar. Dengan menerapkan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mencipta­kan ma­syarakat yang berdasarkan cin­ta, sa­ling mem­bantu, dan sa­ling mendukung. Semoga ca­ha­ya hati ini membawa pence­rah­an bagi pembaca, me­nguatkan iman, dan me­nyinari kehi­dup­an mereka.


Hikmah dan Inspirasi

Berikut ini beberapa hikmah dan inspirasi yang bisa kita per­oleh dari hadis tentang mencintai saha­bat Anshar:

1.  Nilai Persaudaraan dan Solidaritas

Hadis ini menggarisbawahi pentingnya men­cintai sesa­ma Muslim dan membangun hubungan yang kuat dalam ma­syarakat Muslim. Cinta ter­ha­dap sahabat An­shar mengajar­kan pada kita untuk saling mendu­kung, membantu, dan ber­bagi dalam kebaikan. Ini mem­per­kuat ikatan persau­da­ra­an di kalangan umat Islam dan menciptakan solidaritas yang kukuh.

2.  Penghargaan terhadap Pengorbanan

Sahabat Anshar adalah mereka yang mendu­kung Ra­su­lullah saw dengan sepenuh hati. Hadis ini meng­ajarkan pa­da kita untuk menghargai dan menghor­mati kontribusi me­reka dalam menye­bar­kan agama Islam. De­ngan mempelajari sejarah mereka, kita dapat mem­peroleh inspirasi dari pengor­banan yang mereka lakukan dan menerap­kannya dalam ke­hidupan kita.

3.  Cinta karena Allah

Mencintai sahabat Anshar karena mereka telah men­du­kung dan membantu Rasulullah saw adalah ben­tuk cinta karena Allah. Hal ini meng­ajarkan pada kita bahwa hubung­an persaudaraan dalam Islam ha­rus dida­sarkan pada cinta kepada Allah dan kebaikan-Nya. Cinta semacam ini mem­per­kuat ikatan kita dengan Allah dan mem­bawa berkah dalam kehidupan kita.

4.  Penolakan terhadap Kejahatan

Hadis ini secara implisit menunjukkan pen­tingnya men­jauhi kebencian terhadap sahabat Anshar. Mem­ben­ci mereka karena mereka mem­bantu Rasulullah saw ada­lah tanda mu­nafik. Oleh karena itu, hadis ini mengingat­kan kita untuk me­nolak kebencian dan mem­bangun hu­bungan yang positif dengan sesama Muslim.

5.  Inspirasi untuk Membangun Komunitas yang Kuat

Dalam konteks sosial modern, hadis ini mem­beri­kan ins­pi­rasi bagi kita untuk membangun komunitas Muslim yang kuat. Mencintai sesama Muslim, saling membantu, dan sa­ling mendukung adalah landasan yang kuat untuk mencip­takan masyarakat yang har­mo­nis dan solidaritas.

6.  Keimanan sebagai Tanda Utama

Hadis ini menekankan bahwa mencintai sa­habat An­shar adalah salah satu tanda keiman­an. Ini meng­ingat­kan kita un­tuk memperkuat ke­imanan kita dan mening­katkan hubung­an kita dengan Allah. Ketika kita mencin­tai sahabat An­shar karena mereka men­cin­tai Allah, itu men­cerminkan kekuatan keimanan yang mendalam.

 

 

InsyaAllah bersambung…


BULETIN LAINNYA