BULETIN

Pepadhang Qolbu Volume 18 "Benci Kembali Kepada Kekufuran"

28 September 2023

Unduh gambar :

Benci Kembali kepada Kekufuran

(Kitab Iman, Bab 12)

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ.

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami Syu’­bah dari Qotadah dari Anas bin Malik dari Nabi saw, be­liau ber­sabda, “Tiga (per­kara) yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. (2) Dan siapa yang bila mencintai seseorang, dia tidak men­cintai orang itu kecuali karena Allah SWT. Dan (3) sia­pa yang benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila di­lempar ke neraka.” (HR. Bukhari)


Ulasan Hadis

Hadis yang kita ulas kali ini mengandung pesan yang men­dalam tentang kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, kasih sayang an­tara sesama manusia, serta menjauhi ke­ku­furan de­ngan segenap hati dan jiwa yang ikhlas. Hadis ini menjadi jendela bagi kita un­tuk memahami esensi keimanan seka­ligus menjadi cermin bagi jiwa kita dalam menyikapi realitas sosial saat ini.

Dalam hadis ini, Rasulullah saw menyebutkan tiga per­kara yang akan membuat iman seseorang menjadi ma­nis. Pertama, mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari sia­pa pun dan segala sesuatu di dunia ini. Ini menunjuk­kan bahwa cin­ta kepada Allah adalah landasan utama dalam memperkuat keimanan kita. Da­lam realitas sosial yang penuh dengan godaan dan hiruk-pikuk kehidupan, mencintai Allah dan Ra­sul-Nya dengan sepenuh hati akan memberikan kita keda­maian dan kekuatan spiritual yang tak tergoyahkan.

Kedua, mencintai seseorang hanya karena Allah SWT. Cinta ini adalah bentuk kasih sayang yang tulus dan ikh­las, tidak ber­campur dengan motif-motif duniawi seperti kedu­dukan, harta, atau kekuasaan. Dalam dunia yang se­ringkali dikuasai oleh nafsu dan kepentingan pribadi, meng­hidupkan cinta semacam ini me­rupakan langkah pen­ting dalam mem­bangun hubungan yang har­monis antarsesama manusia.

Ketiga, benci terhadap kekufuran dengan segenap hati dan jiwa yang tulus. Ini mengajarkan pada kita untuk men­jauhi segala bentuk kekufuran dan godaan yang meng­arah­kan kita ke jalan yang salah. Rasulullah saw menyamakan pe­rasaan benci ini de­ngan perasaan benci saat dilemparkan ke dalam neraka. Pesan yang terkan­dung di sini sangat kuat, yaitu kita harus memiliki tekad dan keberanian yang tinggi untuk menjaga keimanan kita dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Ba­ri me­nyam­paikan bahwa hadis ini telah dibahas sebelumnya, dan korelasi antara judul bab dengan hadis ini sangat je­las. Mes­kipun ulasan­nya singkat, kita dapat menggali mak­na yang lebih dalam dari pesan yang terkandung da­lam hadis ini.

Dalam konteks sosial saat ini, hadis ini mengingatkan ki­ta akan pentingnya membangun ikatan yang kuat de­ngan Allah, menghidupkan kasih sayang yang tulus de­ngan sesa­ma manusia, dan menjauhi segala bentuk keku­fur­a­n. Dalam dunia yang serba kompleks dan terkadang penuh dengan per­saingan, pesan ini meng­ajarkan pada ki­ta untuk mencin­tai, memaafkan, dan mera­wat hubungan yang saling mem­per­kuat keimanan dan ketak­wa­an.

Dengan pemahaman yang mendalam terhadap hadis-ha­dis Rasulullah saw, seperti hadis dalam kitab Sahih Bukhari ini, kita dapat memperkaya pemahaman dan mempertajam keimanan kita.

Semoga ulasan ini menjadi salah satu sumber inspirasi dan panduan bagi pembaca dalam memperkuat keimanan, menyemai cinta kasih dalam hubungan sosial, serta men­jaga keteguhan hati dalam menghadapi godaan dan tan­tangan hidup. Dengan pema­haman yang lebih mendalam terhadap hadis-hadis Rasulullah saw, kita dapat menjadi manusia yang lebih bermakna dan ber­manfaat bagi diri sendiri, sesama, dan masyarakat secara keselu­ruhan.


Hikmah dan Inspirasi

Berikut adalah di antara hikmah dan inspirasi yang da­pat kita temukan dari hadis ini, terutama dalam kait­annya dengan keimanan:

1.   Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya

Hadis ini mengajarkan pada kita pentingnya men­cintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari segala sesuatu di dunia ini. Cinta ini menjadi sumber kekuatan dan ke­damaian dalam menjalani kehidupan. Keimanan yang kuat akan tumbuh ketika kita memiliki cinta yang men­dalam kepada Allah dan Rasul-Nya.

2.   Kasih Sayang yang Tulus

Hadis ini mengajarkan pentingnya menjalin hu­bung­an sosial yang didasari oleh kasih sayang yang tulus dan ikhlas. Mencintai seseorang hanya karena Allah SWT me­ngajarkan pada kita untuk menghargai setiap indivi­du dan merawat hubungan yang saling memperkuat ke­iman­an. Kasih sayang ini harus murni dan bebas dari mo­tif-motif duniawi yang dapat menga­burkan makna sejati dari keimanan.

3.   Menjauhi Kekufuran

Hadis ini mengajarkan pada kita untuk menjauhi se­gala bentuk kekufuran dengan segenap hati dan ji­wa yang tulus. Ini mengingatkan kita untuk tetap te­guh da­lam memegang agama dan menjauhi godaan yang dapat mengancam keiman­an kita. Keteguhan da­lam keimanan membutuhkan keteguh­an dalam men­jauhi kemaksiatan dan segala bentuk kekufur­an.

4.   Konsistensi dalam Keimanan

Hadis ini menekankan pentingnya konsistensi da­lam ke­imanan. Mencintai iman dan membenci keku­furan ha­rus men­jadi sikap yang melekat dalam diri ki­ta. Ini meng­ajarkan pada kita untuk tetap teguh da­lam keya­kin­an kita tanpa ter­goyahkan oleh godaan-godaan yang dapat mengancam ke­iman­an kita.

5.   Hikmah dalam Menjalani Kehidupan

Hadis ini mengajarkan pada kita untuk mencari hik­mah dan pelajaran dalam setiap aspek kehidupan. Me­nya­dari ba­haya kekufuran dan bencinya terhadap­nya, se­perti bencinya jika dilemparkan ke dalam nera­ka, mem­berikan kita penger­tian tentang nilai dan pen­ting­nya mempertahankan keiman­an kita.

Kesimpulannya, hadis ini mengajarkan pada kita un­tuk menguatkan keimanan, menjalin hubungan yang pe­nuh kasih sa­yang dengan sesama manusia karena Allah, dan men­jauhi se­gala bentuk kekufuran. Dengan me­ma­hami pe­san yang terkan­dung dalam hadis ini, kita dapat memper­kuat keimanan kita, me­nye­mai cinta kasih dalam hubungan sosial, dan menjaga keteguh­an hati da­lam menghadapi go­daan dan tantangan hidup.

BULETIN LAINNYA