05 October 2026
Jejak pengabdian KH Asyhari Abdullah Tamrin, atau yang akrab disapa KH Asyhari Abta, terbentang panjang di dunia dakwah, pendidikan pesantren, dan Nahdlatul Ulama (NU). Puluhan tahun hidupnya diabdikan untuk mengajar, mengasuh santri, membina masyarakat, serta menghidupkan majelis-majelis pengajian di berbagai daerah.
Bagi keluarga besar pesantren dan NU Yogyakarta, Pak Asyhari, sapaan akrab beliau dengan para santri, dikenal bukan hanya sebagai ulama dan pengasuh pesantren, tetapi juga sebagai dai yang sejak muda terbiasa turun langsung ke tengah-tengah masyarakat.
Ketika sebagian santri masih berkutat dengan musyawarah dan aktivitas kepesantrenan, Kiai Asyhari telah merambah desa-desa untuk mengisi pengajian umum. Dakwah menjadi bagian dari kesehariannya jauh sebelum ia dipercaya memegang berbagai amanah penting di lingkungan NU.
Mengabdi melalui Pendidikan Pesantren
Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Dr. KH Hilmy Muhammad (Gus Hilmy), yang juga merupakan salah satu murid KH Asyhari Abta, mengenang gurunya sebagai sosok yang memiliki semangat dakwah kuat sejak usia muda. Kesaksian tersebut disampaikan Gus Hilmy melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada Kamis, 24 September 2026, pukul 11.29 WIB.
Dalam unggahan tersebut, Gus Hilmy menuturkan bahwa KH Asyhari Abta sejak masih menjadi guru di Pondok Pesantren Krapyak, Kiai Asyhari telah aktif berkeliling ke berbagai pelosok desa. Ketika memimpin Korps Dakwah Mahasiswa (Kodama) Kabupaten Bantul, ia menginisiasi dan mengampu sejumlah majelis pengajian yang menjadi ruang dakwah sekaligus pembinaan masyarakat.
“Banyak sekali majelis yang beliau inisiasi dan beliau ampu selama memimpin Korps Dakwah Mahasiswa (Kodama) di seputaran Kabupaten Bantul,” tulis Gus Hilmy dalam unggahan tersebut.
Jangkauan dakwahnya tidak hanya berada di wilayah Bantul dan Yogyakarta. Ia memiliki pengajian rutin di Muntilan, Magelang. Selama bertahun-tahun, ia juga dipercaya menjadi badal atau pengganti KH Mufid Mas’ud (almarhum) ketika berhalangan.
Di Pesantren Krapyak, pengabdiannya juga tidak pernah benar-benar terputus. Ia mendampingi almarhum KH Atabik Ali dalam mengasuh Pengajian Jumat Legi, sebuah pengajian yang merupakan peninggalan almarhum KH Ali Maksum.
Masih menurut Gus Hilmy, ceramah Kiai Asyhari memiliki ciri khas tersendiri.
“Ceramah almarhum selalu renyah, ringan, tanpa kehilangan bobot. Materinya soal akhlak dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah,” kenang Gus Hilmy.
Dalam berbagai pengajiannya, Kiai Asyhari juga kerap mengutip pangandikan dan pelajaran dari gurunya, KH Ali Maksum, ulama yang pernah menjadi Rais Aam PBNU.
Dakwah Kiai Asyhari berjalan beriringan dengan pengabdiannya di dunia pendidikan.
Kepala Madrasah Aliyah Krapyak Yogyakarta
Di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, ia mengampu berbagai kajian keislaman, antara lain ilmu nahwu, ushul fikih, serta kitab-kitab akhlak. Pengabdiannya di lembaga pendidikan tersebut berlangsung dalam waktu panjang hingga ia dipercaya menjadi wakil kepala dan kemudian ketika tidak lagi menjadi kepala madrasah, Kiai Asyhari kemudian lebih banyak mencurahkan perhatian untuk mengembangkan pesantren yang ia rintis di Sleman.
Pesantren tersebut berdiri di Dusun Tegalsari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, dan diberi nama Pondok Pesantren Tegalsari, mengikuti nama dusun tempat tinggalnya.
Di pesantren itu, Kiai Asyhari mengasuh para mahasantri sekaligus membuka pengajian bagi kalangan kasepuhan dan tokoh masyarakat, khususnya di wilayah Sleman.
Namun, perpindahannya ke Sleman tidak membuat hubungan Kiai Asyhari dengan Krapyak terputus. Selama bertahun-tahun ia masih aktif mengajar di Madrasah Aliyah Krapyak.
Bagi Gus Hilmy, hal itu menjadi salah satu gambaran kuat kecintaan Kiai Asyhari terhadap Krapyak.
“Beliau mengasuh teman-teman mahasiswa dan membuka pengajian untuk kasepuhan dan tokoh masyarakat, khususnya di Sleman. Yang luar biasa, meskipun beliau sudah menetap di Sleman dan selama bertahun-tahun kondisi kesehatan mengharuskan cuci darah, tetapi hingga akhir hayat masih memiliki jam mengajar di Madrasah Aliyah Krapyak,” ujar Gus Hilmy.
Amanah Panjang di Nahdlatul Ulama
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Kiai Asyhari Abta juga menjalani perjalanan pengabdian yang panjang. Ia dipercaya menjadi Rais Syuriah PCNU Bantul selama dua periode, yakni 1996–2000 dan 2001–2005.
Pengabdiannya kemudian berlanjut di tingkat wilayah. Ia dipercaya menjadi Rais Syuriah PWNU DIY selama dua periode, yakni 2006–2011 dan 2012–2016.
Setelah menyelesaikan amanah sebagai Rais Syuriah PWNU DIY, Kiai Asyhari tetap menjadi bagian dari jajaran ulama NU DIY. Ia dipercaya sebagai Mustasyar PWNU DIY periode 2022–2027.
Bagi Kiai Asyhari, pengabdian kepada NU tidak berhenti ketika sebuah jabatan struktural berakhir. Ia terus menghidupkan dakwah melalui pengajian, pendidikan pesantren, pengajaran kepada santri, dan pembinaan masyarakat.
Karena itu, perjalanan Kiai Asyhari di NU tidak semata-mata dapat dilihat dari jabatan yang pernah diembannya. Lebih dari itu, ia meninggalkan jejak melalui aktivitas keilmuan dan dakwah yang berlangsung terus-menerus.
Istiqamah di Tengah Ujian Kesehatan
Salah satu sisi yang menjadi teladan dari perjalanan Kiai Asyhari adalah keteguhannya dalam menjalankan pengabdian di tengah kondisi kesehatan yang tidak mudah.
Sejak sekitar 2016, ia harus menjalani prosedur cuci darah secara berkala. Selama hampir satu dekade, rutinitas tersebut menjadi bagian dari kehidupannya.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti mengajar dan berdakwah. Ia tetap mengasuh pesantren, mengisi pengajian, mengajar di Krapyak, serta menghadiri berbagai kegiatan bersama para kiai dan tokoh NU.
Bagi orang-orang di sekitarnya, ketekunan itu menjadi gambaran bagaimana Kiai Asyhari menjalani sakit bukan sebagai alasan untuk meninggalkan pengabdian. Ia tetap menjaga hubungan dengan para santri, guru, kiai, dan masyarakat hingga usia senja.
Tetap Mengajar hingga Menjelang Akhir Hayat
Kecintaan Kiai Asyhari terhadap dunia pendidikan dan dakwah bahkan masih terlihat pada hari-hari terakhir kehidupannya.
Di tengah kondisi fisik yang harus mendapatkan perawatan secara rutin, ia masih berusaha hadir dalam kegiatan keilmuan dan bertemu dengan para kiai serta tokoh NU.
Aktivitas tersebut menjadi bagian dari kesehariannya hingga menjelang akhir hayat.
Bagi murid dan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya, sosok Pak Asyhari dikenang sebagai guru yang sederhana, tekun, dan dekat dengan masyarakat. Ia mampu menyampaikan materi keagamaan dengan bahasa yang ringan, tetapi tetap membawa pesan tentang akhlak dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Dakwahnya menjangkau pesantren, masjid, majelis pengajian, kampung-kampung, hingga ruang pertemuan para kiai dan tokoh masyarakat.
Pesantren Tegalsari yang dirintisnya menjadi salah satu tempat terakhir ia mencurahkan tenaga untuk membina generasi muda dan masyarakat.
Berpulang di Usia 74 Tahun
Setelah puluhan tahun mengabdikan diri melalui dakwah, pendidikan, pesantren, dan Nahdlatul Ulama, perjalanan panjang Kiai Asyhari Abta akhirnya sampai pada penghujungnya.
KH Asyhari Abdullah Tamrin wafat pada Kamis, 24 September 2026, pukul 04.01 WIB di RSUP Dr. Sardjito, Sleman, Yogyakarta. Ia meninggal dunia dalam usia 74 tahun.
Kabar duka tersebut disampaikan Gus Hilmy melalui media sosialnya pada Kamis pagi.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah wafat pada pagi ini guru saya, Bapak KH Asyhari Abdullah Tamrin. Beliau dikenal sebagai dai, pengasuh pesantren dan pejuang NU,” tulis Gus Hilmy.
Jenazah Kiai Asyhari kemudian dimakamkan pada hari yang sama, sekitar pukul 15.30 WIB, di kompleks Pondok Pesantren Tegalsari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
Ia pergi setelah meninggalkan jejak panjang pengabdian: dari majelis-majelis pengajian di pelosok desa, ruang-ruang kelas Krapyak, pesantren yang dirintisnya di Tegalsari, hingga amanah panjang di Nahdlatul Ulama.
Editor: Markaban Anwar