Berita

AMBULAN NU BANTUL LAYANI 1.069 PERJALANAN SELAMA JUNI 2026

06 July 2026

Unduh gambar :

Layanan Ambulans NU Care-LAZISNU PCNU Kabupaten Bantul mencatat 1.069 perjalanan (trip) selama Juni 2026 untuk memenuhi kebutuhan transportasi kesehatan masyarakat di Kabupaten Bantul dan sekitarnya. Dari jumlah tersebut, 1.005 perjalanan digunakan untuk pelayanan pasien, sedangkan 64 perjalanan merupakan layanan ambulans jenazah.


Ketua NU Care-LAZISNU PCNU Kabupaten Bantul, H. Choiron Marzuki, dalam keterangan tertulis yang disampaikan pada Ahad (5/7/2026), mengatakan tingginya jumlah pelayanan tersebut menunjukkan bahwa ambulans NU masih menjadi salah satu layanan sosial yang sangat dibutuhkan masyarakat.


"Data ini menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap layanan ambulans sosial tetap tinggi. NU Care-LAZISNU berkomitmen menghadirkan pelayanan yang cepat, aman, dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat," ujarnya.


Berdasarkan data diagnosis pasien, kasus stroke menjadi yang paling banyak dilayani dengan 190 pasien. Disusul pasien hemodialisis (HD) sebanyak 183 pasien, penyakit dalam sebanyak 109 pasien, serta emergency IGD sebanyak 74 pasien. Selain itu, ambulans juga melayani pasien kontrol pascaoperasi sebanyak 59 orang, kanker sebanyak 53 orang, dan patah tulang sebanyak 52 orang. Sementara itu, kategori lainnya mencapai 349 pasien, menunjukkan beragam kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat yang memanfaatkan ambulans NU Care-LAZISNU.


Jika dilihat dari kelompok usia, pengguna layanan didominasi pasien lanjut usia. Kelompok usia 61–70 tahun menjadi yang terbanyak dengan 304 pasien, disusul usia 51–60 tahun sebanyak 236 pasien, serta 71–80 tahun sebanyak 168 pasien. Data tersebut menunjukkan bahwa layanan ambulans banyak dimanfaatkan masyarakat usia produktif akhir hingga lansia yang memerlukan mobilitas rutin menuju fasilitas kesehatan.


Rumah sakit tujuan pelayanan pun didominasi rumah sakit rujukan di Daerah Istimewa Yogyakarta. RSUP Dr. Sardjito menjadi tujuan terbanyak dengan 233 perjalanan, disusul RSUD Panembahan Senopati Bantul sebanyak 227 perjalanan, RS PKU Bantul sebanyak 77 perjalanan, RSPAU Hardjolukito sebanyak 57 perjalanan, serta sejumlah rumah sakit lainnya seperti RS Nur Hidayah, RS UII, RSA UGM, dan RS Santa Elisabeth.


Sementara itu, berdasarkan jenis layanan, kegiatan antar-jemput pasien mendominasi dengan 858 perjalanan atau sekitar delapan dari setiap sepuluh layanan yang diberikan. Selain itu, terdapat 76 layanan antar pasien, 65 layanan antar jenazah, 56 layanan penjemputan pasien, 8 layanan penjemputan jenazah, 4 layanan pemakaman, serta masing-masing 1 layanan kegiatan NU dan 1 layanan lainnya.


Aktivitas layanan ambulans berlangsung hampir setiap hari sepanjang Juni 2026. Jumlah perjalanan harian berkisar antara belasan hingga puluhan layanan. Puncak pelayanan terjadi pada 10 Juni dengan 57 perjalanan, disusul 29 Juni sebanyak 55 perjalanan. Pada hari-hari lainnya, rata-rata ambulans melayani sekitar 30–50 perjalanan setiap hari.


Choiron menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil sinergi para pengemudi ambulans, relawan, donatur, pengurus NU Care-LAZISNU, serta masyarakat yang selama ini mendukung keberlangsungan layanan. Menurutnya, ambulans NU merupakan wujud nyata kepedulian Nahdlatul Ulama dalam menghadirkan layanan transportasi medis yang cepat, mudah dijangkau, dan berorientasi pada kemanusiaan.


Ia juga menjelaskan, berdasarkan koordinasi dengan 17 Ketua UPZISNU Kapanewon se-Kabupaten Bantul, saat ini skema layanan ambulans di setiap kapanewon tidak sepenuhnya sama. Sebagian besar operasional ambulans selama ini dapat diberikan secara gratis karena ditopang oleh dana KOIN NU (Kotak Infak Nahdliyin) yang dihimpun dari masyarakat.


Namun demikian, kondisi di masing-masing kapanewon berbeda. Ada wilayah yang perolehan dana KOIN masih mencukupi sehingga layanan ambulans tetap dapat diberikan tanpa biaya. Sebaliknya, terdapat beberapa UPZISNU kapanewon yang mulai mengajak keluarga pasien untuk berinfak secara sukarela guna membantu biaya operasional ambulans.


"Infak tersebut bukan merupakan tarif layanan, melainkan bentuk gotong royong agar pelayanan tetap bisa berjalan. Paling tidak dapat membantu memenuhi kebutuhan operasional seperti pembelian bahan bakar," jelas Choiron.


Menurutnya, kondisi tersebut tidak lepas dari menurunnya kemampuan ekonomi masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Tekanan biaya hidup, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga meningkatnya biaya transportasi dan bahan bakar berdampak pada menurunnya daya masyarakat untuk berinfak. Akibatnya, penghimpunan dana KOIN di sejumlah wilayah belum mampu menutup seluruh kebutuhan operasional ambulans.


Meski menghadapi tantangan tersebut, NU Care-LAZISNU PCNU Bantul memastikan layanan ambulans tetap berjalan dengan mengedepankan semangat ta'awun (tolong-menolong) dan gotong royong. Choiron berharap dukungan masyarakat melalui KOIN NU maupun infak sukarela terus meningkat agar layanan ambulans dapat terus hadir membantu warga yang membutuhkan tanpa terkendala biaya operasional.


Kontributor: Markaban Anwar


Keterangan foto/gambar:

Infografis Layanan Ambulan NU Care-LAZISNU Bantul bulan Juni 2026.

BERITA LAINNYA